sekilas perbandingan Industri Sinema/Musik dan Software di Indonesia

Ditengah2 suasana rawan pembajakan, industri sinema dan musik indonesia mengalami banyak perkembangan pesat dibandingan 5-10 tahun lalu. Apakah ini menandakan bahwa tidak perlu mengkhawatirkan pembajakan  karena walaupun ada pembajakan toh industri sinema dan musik tetap berjalan,  berproduksi dan menghasilkan profit. Buktinya kini banyak film2 sinema  produksi buatan Indonesia yang diputar di bioskop 21. Banyak pendatang2 baru  di bidang musik yang namanya mencuat keatas , mencatat penjualan album terlaris, popular mendadak. Kenapa mereka tidak takut produknya dibajak ?.

Intuisiku bilang, separah apapun pembajakan, katakanlah pembajakan memakan  potential loss diatas 80% tetaplah berpikir positif. Akan selalu ada orang  baik yang appreciate dengan kualitas dari produk yang dihasilkan. Pembajakan  juga dapat mengukur seberapa bagus kualitas produk yang kita miliki. Bila  tidak ada pembajakan untuk produk tertentu, maka ada 2 kemungkinan,
Kemungkinan pertama adalah Hukum sudah berjalan dan kemungkinan kedua adalah  Produk yang dihasilkan JELEK kualitasnya !. Untuk saat ini kemungkinan  kedualah yang pasti terjadi.

Bagaimana dengan industri software/gaming di Indonesia? sebagai orang yang berprofesi dibidang software IT terutama dindustri Gaming,  pastinya kita tahu nama2 beberapa company di Indonesia yang memfokuskan  bisnisnya  di bidang yang berhubungan dengan business software ataupun 
gaming. Ada beberapa nama yang sukses yang merelease produknya di lingkup  global/world-wide. Akan tetapi jumlahnya  tidak banyak dibandingkan dengan persentase jumlah pendukuk Indonesia. Kenapa jumlahnya tidak banyak ? Alasan  terbesar adalah mereka takut produknya dibajak, padahal untuk membangun mass-customized software / game software memerlukan dana yang tidak sedikit,
sudah capek2 bikin pas di release lalu dijual malah laku sedikit tapi  bajakannnya beredar luas. Apakah masuk diakal alasan seperti ini ?

Lalu bagaimana dengan mereka yang bergerak di industri sinema/musik  Indonesia, apakah pada dasarnya mereka juga memiliki kekhawatiran yang sama?  setelah membuat album rekaman/film layar lebar , mereka tidak memiliki  kekhawatiran seperti itu ?

My-Intuition told me that…mereka yang berkecimpung di dunia sinema/musik  yang bertahan terus dapat menghasilkan produk2 berkualitas tanpa khawatir  dengan pembajakan pastilah orang yang idealis yang memang memiliki jiwa seni  yang membutuhkan media penyaluran baik di sinema ataupun musik. Tanpa suatu  idealisime yang kuat mana mungkin seseorang dapat bertahan. Sudah capek2  bikin film, bikin lagu, nyari inspirasi, belajar akting, nulis script, nulis  scenario dan sebagainya, kerja panjang berbulan2..eh pas sudah  direlease..orang2 malah lebih suka beli produk bajakannya  di Glodok. Apakah  mereka putus asa lalu berpikir alternatif untuk mencari profesi lain diluar  jiwa mereka ?, berpikir wah mendingan ikutan arisan MLM aja deh, manusia 
kan perlu makan, daripada bertahan di industri ini. Sangat disayangkan  apabila  harus menyerah dengan situasi seperti ini. Something that must be  done,  berpikir kreatif harus dilakukan.
Bagi mereka yang bergerak di industri musik, mungkin punya cara untuk  mengatasi masalah finansial, misalnya mencari profit lewat konser/tur,  penjualan merchandise, mempatenkan lagu2 ciptaan dan sebagainya. Yang  bergerak dibidang sinema layar lebar, mungkin menjajaki kerja sama dengan  pihak lain untuk membiayai ongkos produksi, kerja sama dengan vendor produk  tertentu dan sebagainya. 

Pokoknya pasti ada cara, begitu juga dengan industri software Indonesia.Sebagai langkah awal, harusnya bergembira bila produknya dibajak, karena ini  menandakan bahwa pasar/kustomer sudah accept dengan kualitas produk yang  dihasilkan. perjalanan ke depan memang berat tough,hard,dan sulit tapi pasti  ada jalan, pasti ada cara untuk tetap survive dan begitu ketemu  solusinya..mudah2an we’ll make it bigger tidak hanya survive tapi mampu berbicara banyak dilingkup global/worldwide.

One Response to “sekilas perbandingan Industri Sinema/Musik dan Software di Indonesia”

  1. Riana Says:

    Gue baru beli game nih, Myst IV Revelation, di mangdu. Bajakanlah pasti. Tapi karena di Indonesia gak ada yang jual originalnya. Kalo di sini ada, pasti gue beli originalnya (catatan: gue punya Riven dan Myst III: Exile yang original, beli di Sing. Plus Missing, juga ori). Harganya cuma kaclok 200 ribu. Dan gue amat sangat menghargai kejeniusan dan kerja gila crew developernya, plus value tambahan sebuah game (musiknya yang bikin Peter Gabriel, man!). Pastinya, kalo gue ada rejeki ke Singapore lagi, gue pasti beli originalnya tuh Myst IV. Gue benci game bajakan. Gue benci sampul buremnya, cracknya, menjeritnya hati gue ketika gue menyelesaikan sebuah game adventure dengan kekaguman luar biasa sambil menyadari bahwa gak sepeserpun duit yang gue bayarkan nyampe ke nama-nama yang muncul di credit titles di layar monitor gue. Game developers are geniuses, honorable people whom we take advantage everyday. They deserve the relatively small money we pay for their works.
    Anyway, Kukuh, glad I found your blog. Gue syndicate ya!

Leave a Reply