Open Source versus Proprietary, Free or Fee ??
ada 2 aliran yang saling bertentangan di dunia IT. mereka adalah yang berpendapat bahwa Software must be free melawan Software must be profitable. akankah arah perkembangan software development didepannya akan ditentukan oleh kedua aliran ini ? bila aliran open source berkembang semakin menggila dan akhirnya berjaya, mungkin para raksasa software akan mengalami
kebangkrutan massal, tapi sebaliknya apabila gerakan open source mengalami kejenuhan, kelelahan di depannya dipastikan situasinya tidak akan jauh berbeda dari sekarang, para kustomer akan tetap dapat menikmati software dengan charge sesuai kualitas software yang dibelinya.
I have opinion tentang software, maaf banget nih..kalau software bisa dianalogikan dengan ’s*x’. you can have it by free or you can have by rent it or buy it !!. even you can hack it / (rape it?). in terms of s*x..you can have it suka sama suka…sama dengan software open source…para pengembang developer memberikan izin kepada para pemakai atau user lain untuk menggunakan programnya bahkan dengan original codenya sehingga pihak lain dapat ikut mengembangkan/memodikasi program itu sendiri.
Bila dilihat dari sisi pemakai/pengguna softare, tentunya solusi open source merupakan solusi yang sangat menguntungkan. Bila dilihat dari sisi pembuat program/developer, tentunya open source dapat memberikan kepuasan bathin karena mereka para pengembang/developer dapat mempublikasikan dirinya dimuka umum bahwa mereka dapat memberikan sesuatu yang berarti, dapat berkontribusi kepada lingkungan masyarakat melalui software yang mereka buat. Para pengikut open source yang fanatis biasanya membenci golongan kapitalis yang mengeruk
keuntungan dari bisnis software. slogan seperti Knowledge must be free berdengung dimana-mana. Bagi orang bisnis adalah hal yang tidak masuk akal ketika hasil jerih payah suatu team selama berbulan-bulan dan menghasilkan produk berkualitas dibagikan begitu saja. memangnya mereka para developer tidak perlu makan ??, darimana mereka mendapatkan gaji kalau tidak dari kantong investor ? lalu kalau dana sudah dinvest ke software house dan hasilnya diberikan ke masyarakat dengan nilai 0, dari mana perusahaan mendapatkan untung ??
Di era tahun-tahun belakangan ini adalah suatu hal menarik bila kita mengikuti fenomana ini, mungkin mirip dengan era politik setelah perang dunia ke-2 dimana dunia mendapati 2 kubu yang sama-sama besar dan mempunyai pengikut yang seimbang yaitu blok barat/kapitalis dan blok timur/komunis. pada era perang dingin politik, kedua kubu rajin melakukan propaganda politik ke dunia ketiga, baik berupa propaganda politik yang halus ataupun kasar.
Miripkah situasi perang dingin antara timur dan barat identik dengan open source dan Closed Source ? kerasa nggak sekarang2 ini …propaganda pengikut open source dan Closed Source sekarang2 ini rajin menyebarkan ajarannya baik melalui media massa/mailing list/newsletter/mailing list/birokrasi ?? Bagi yang berprofesi di-luar IT mungkin tidak merasa, siapapun pemenangnya nanti, tidaklah berpengaruh banyak bagi kehidupannya. Tapi bagi kita2 yang bergerak di dunia IT merasa sekali dinamika perang dingin ini. Eropa dan amerika latin terutama Brasil kemungkinan besar sudah dimenangkan oleh pengikut open source, dan sekarang2 ini wilayah asia pasifik sedang gencar diserbu oleh aliran Closed Source, maklum saja perkembangan ekonomi paling pesat dibelahan dunia saat ini dipegang oleh negara2 di asia pasifik.
I personally tidak berpihak fanatis kepada kedua kubu tersebut. Gerakan open source dapat dimaklumi bahwa software yang berkualitas selayaknya diketahui ‘jeroannya’ oleh pihak lain agar yang lain dapat berpartisipasi turut serta dalam mengembangakan software tersebut dan membuatnya menjadi lebih baik.
Para developer open source seharusnya diberikan apresiasi dan pujian tinggi karena dengan berbaik hati mereka mau membagikan source codenya dengan free. Sifat kedermawanan, kerendahan hati, idealisme seharusnya bagus ditiru. Gerakan kaum investor kapitalis yang memerlukan dana / modal untuk mengumpulkan dan membentuk team terbaik untuk menghasilkan produk berkualitas selayaknya diberikan ‘reward’ yang setara dengan kualitas produk dihasilkan. Bagaimanapun juga para developer/investor/analyst ini juga manusia, punya hati dan punya rasa. yang hasil jerih payahnya tidak cukup dibayar dengan ucapan ‘Terima Kasih’. Mereka kan juga perlu makan.
Saya punya dugaan sendiri..pada umumnya mayoritas pendukung open source itu terdiri dari orang2 muda dengan range umur antara belasan tahun sampai dengan 20-30an tahun. Setelah 30an keatas , setelah mereka merasakan benar bahwa hidup itu perlu dukungan finansial, tidak dipungkiri banyak yang membelot dari yang tadinya suka rela tidak dibayar menjadi berpikir praktis bisnis.
Berubahlah mereka menjadi tertutup/protektif terhadap source code ciptaan mereka. Masuk diakal bila kita berbikiran bahwa mereka yang berusia muda berumur 20an awal tidak memerlukan biaya banyak dalam membiayai hidup mereka sehari-hari, mereka senang membuat software tanpa harus dibayar, mereka berbagi tips dan trick, tidak merahasikan code mereka, saling belajar satu sama lain. Tapi begitu memasuki dunia real…..mereka tahu apa yang mereka harus lakukan…dam mereka punya pilihan……what should i have got to do with my code ?? free or fee?
Kukuh TW
50% pendukung open source
50% pendukung closed source